Kamis, 26 Juli 2018

Efek Samping Menonton Film 3D

Menonton film dengan teknologi 3D tentu lebih seru dibandingkan format film biasa. Namun, jikalau ini sering dilakukan, apakah sanggup berdampak jelek bagi anak? Teknologi 3D terbaru memakai satu proyektor yang berpindah antara gambar mata kiri dan kanan sebanyak 144 kali per detik, serta memakai kacamata yang lebih baik.

Metode ini menciptakan mata kita bekerja sampai batas maksimal. "Bisa diibaratkan, otot mata kita sedang melaksanakan lari maraton," kata Dr Daryan Angle, mahir mata dari Kanada. Faktanya, sebagian orang tidak sanggup memroses pengaruh 3D dengan baik, sehingga pada alhasil mengalami keluhan mirip sakit kepala selesai menonton.


ilustrasi


Hal ini bisa terjadi pada orang cukup umur dan juga anak-anak. "Efeknya akan lebih berat bagi anak-anak, yang tidak tahu dengan niscaya apa yang seharusnya mereka lihat," tambah Dr Angle. Ia merekomendasikan orangtua untuk terlebih dulu memeriksakan mata anaknya. Pemeriksaan penglihatan 3D bisa membantu menemukan apakah anak mempunyai duduk kasus pada mata yang akan membuatnya tidak sanggup menikmati film 3D.

"Menonton film 3D itu memerlukan kendali otot serta pengelihatan yang baik," terang Dr Angle. Sementara sampai usia 7 tahun, kemampuan melihat anak masih dalam perkembangan. Jadi, sebaiknya proses perkembangan ini didukung dengan tidak memberinya stimulasi yang berlebihan.

via kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar